Tugas Perubahan Sosial Budaya

Labels:

Reactions: 


Perubahan Sosial Budaya Yang Ada di Masyarakat Tengger Bromo

Perubahan yang ada di masyarakat Tengger ada pada berbagai macam bidang. Ada perubahan yang secara cepat dan ada pula perubahan yang secara lambat. Perubahan yang ada pada masyarakat Tengger di sana seperti pada bidang :
1.      Mata pencaharian
Mayoritas penduduk Tengger berprofesi sebagai petani ladang. Dengan majunya pariwisata yang ada di sana, masyarakat sekarang memiliki pekerjaan sampingan seperti tour guide, sewa kuda, sewa jeep, berjualan bunga eddelwais, berjualan kaos, sarung tangan, topi dan masih banyak yang mereka perjualkan disana. Di desa yang berada di bawah Gunung Bromo, masyarakat juga banyak yang menyediakan home stay untuk para wisatawan yang ingin menginap di sana.  Mereka mengetahui peluang apa saja yang bisa mereka dapatkan dari tempat pariwisata Bromo yang sudah terkenal ke berbagai Negara.
Namun demikian, pekerjaan utama masyarakat Tengger adalah sebagai petani ladang, bahkan seorang ketua adat suku Tengger pun pekerjaan utamanya adalah petani.


2.      Pendidikan
Pendidikan masyarakat disana awalnya kurang penting. Karena masyarakat Tengger beranggapan pendidikan sekolah bukanlah hal yang paling utama. Pendidikan moral yang di ajarkan oleh orang tua kepaada anak-anaknya sudah cukup sebagai bahan ajar. Para orang tua beranggapan percuma saja anak mereka di sekolahkan tinggi-tinggi namun moral anak mereka rusak, lebih baik para orang tua mendidik moral anaknya terlebih dahuulu. Karena seorang anak yang moralnya baik, walaupun mereka sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi mereka tetep memiliki moral yang baik pula.
Sekolah yang ada pertama kali di sana adalah Sekolah Rakyat (SR). Dengan perkembangan zaman yang mulai barkembang, pendidikan menjadi lebih diutamakan bahkan sangat berarti bagi masyarakat di sana. Anak balita (bawah lima tahun) sudah di sekolahkan di PAUD, lalu di lanjutkan ke jenjang SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Namun rata-rata penduduk yang ada di sana menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang SMA. Adapun yang melanjutkan kejenjang SMA, mereka harus menempuh jarak yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Karena, SMA terdekat ada di kota.

3.      Teknologi
Dari segi teknologi, banyak pengaruh yang membuat berbagai macam alat-alat yang mulai berganti. Dari yang tradisional berubah menjadi yang lebih modern. Seperti :
ü  Alat transportasi
Sebelum ada jalan beraspal, masyarakat lebih memilih berjalan kaki. Untuk  jarak yang agak jauh, mereka lebih memilih menggunakan kuda. Karena jalan sekarang sudah beraspal, kendaraan bermesin sudah ada, masyarakat beralih ke kendaraan bermotor.
Majunya alat transportasi, disana ada kendaraan jeep yang di gunakan untuk khusus mengangkut para wisatawan. Ada pula shuttle yang di pergunakan oleh masyarakat yang ada disana (seperti angkutan umum) dan yang dipergunakan pula oleh para wisatawan juga.
ü  Alat komunikasi
Dulu alat yang digunakan untuk memberi kabar adalah dengan menggunakan perantara individu, lalu berubah menjadi kentongan untuk memberi tahu hal-hal yang penting di desa, kemudian dengan berkembangnya teknologi, warnet, HP / internet / microphone mulai ada di desa itu.
ü  Alat-alat masak
Alat untuk memasak disana banyak yang menggunakan pawon. Pawon di sana tidak seperti pawon-pawon kebanyakan. Pawon di sana di bawah tempat untuk membakar kayu, terlebih dahulu di beri lubang kecil sebelum pembuatannya, agar asap yang keluar dari pawon tidak tersebar kemana-mana. Jadi asap yang dikeluarkan masuk lewat saluran lubang kecil di bawah tungku.
ü  Alat penerangan
Dulu, di sana tidak ada sarana penerangan berupa listrik. Masyarakat di sana masih menggunakan alat-alat yang seadanya untuk menerangi rumah mereka. Dengan berkembangnya sarana teknologi, di sana pun mulai ada listrik. Sehingga rumah-rumah penduduk disana sudah diterangi oleh terangnya cahaya lampu listrik. Dengan adanya tiang-tiang listrik di sepanjang jalanan beraspal yang ada di desa Ngadisari, jalanan di sana menjadi terang.
4.      Bentuk-bentuk Rumah
Bentuk rumah masyarakat tengger dulunya atapnya terbuat dari daun alang-alang, dinding terbuat dari anyaman bambu, lantainya masih berupa tanah. Sedangkan bentuk rumah yang di sana sudah terpengaruh dengan kebudayaan baru. Atap sudah terbuat dari genteng, dinding sudah terbuat dari bata, lantainya pun sudah berlapis keramik.
Adapun bentuk rumah yang masih asli berada di belakang gunung Batok yang bersebelahan dengan gunung Bromo.

5.      Agama
Mayoritas agama penduduk yang berada di suku tengger adalah Hindu. Sedangkan agama yang ada di sana selain Hindu adalah Islam. Masyarakat yang beragama Hindu bisa di jumpai di suku Tengger bagian atas, sedangkan Tengger bagian bawah bisa di jumpai masyarakat Tengger yang beragama Islam. Masyarakat Tengger Hindu dengan masyarakat Tengger Islam bisa hidup berdampingan satu sama lain dalam satu desa yang saling bersebelahan.

6.      Bahasa
Bahasa merupakan alat pemersatu untuk berkomunikasi sehari-hari. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat tengger sama dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari yaitu bahasa Jawa walaupun ada tambahan dengan menggunakan aksen A. Masyarakat disana mengasuh anak-anaknya menggunakan bahasa yang baik agar anak tersebut bisa mengerti sopan santun. Apabila anak tidak diberi pengarahan tentang bahasa yang baik untuk di gunakan, maka anak tersebut akan seenaknya sendiri jika berbicara dengan lawan bicaranya yang lebih tua. Namun ada pula anak yang menggunakan bahasa “nglampa” yang berbicara dengan seenaknya sendiri.
Majunya pariwisata yang ada di Bromo, membuat pola pemikiran masyarakat Tengger semakin maju, yang dulunya masih berfikir tradisional, sekarang sudah berfikir lebih modern. Dari berbagai macam perubahan-perubahan, masyarakat Tengger juga masih memegang teguh apa yang sudah di tinggalkan oleh para leluhur mereka, masih menjaga solidaritas satu sama lain. Walaupun banyak perubahan-perubahan yang ada pada masyarakat Tengger di beberapa aspek-aspek kehidupan, mayarakat di sana masih menjaga keseimbangan antara  dunia alam nyata dengan dunia di luar alam nyata. 

Comments (0)

Post a Comment